Ayah Sarah — Siapa Sebenarnya?
Nama asli: Bapak Zaenudin
Nama panggilan: Ayah Sarah
TTL : Batu Raja, 31 Desember 1977
Peran: Pendiri dan penggerak di balik Yayasan Sahabat Ayah Sarah
Biodata & Latar Belakang
Sedikit info tentang latar belakang beliau:
♥ Mulai di kenal publik karena kiprahnya membantu teman-teman anak penderita kanker, seperti yang di alami Sarah.
♦ Beliau membangun gerakan ini dari kepedulian pribadi, yang kelak menjadi komunitas, lalu terbentuk secara legal menjadi yayasan pada tahun Agustus 2021.
◊ Lokasi awal aktivitas: di Jabodetabek — yayasan menyediakan rumah singgah di Jakarta Timur untuk keluarga pasien dari luar daerah supaya punya tempat tinggal selama perawatan.
Kisah “Ayah Sarah” — Kenapa Orang Memanggilnya Begitu?
Panggilan “Ayah Sarah” bermula dari sebuah amanah yang di ucapkan oleh seorang anak kecil bernama Sarah Husniah, yang sedang berjuang melawan leukemia (jenis kanker darah).
Cerita singkatnya:
♦ Sarah, meskipun kondisinya tidak selalu baik, selalu menunjukkan kepedulian kepada teman-temannya sesama pasien.
♥ Saat Sarah dalam masa kritis, ia memanggil Bapak Zaenudin (ayah sarah), lalu berkata:
“Ayah, Sarah mau tidur. Ayah jangan berhenti untuk membantu teman-teman Sarah yaa.”
◊ Kata-kata kecil dari Sarah ini menjadi inspirasi besar, dan menjadi dasar gerakan/kepedulian yang kemudian membentuk Yayasan. Orang-orang mulai menyebut Zaenudin sebagai “Ayah Sarah” sebagai bentuk hormat dan pengingat akan janji agar bantu sesama yang sakit.
Niat Baik, dan Karakter
Berikut karakter dan niat baik yang terlihat dari sepak terjangnya:
♥ Peduli & empatik: bukan hanya fokus ke satu pasien; dampaknya meluas ke banyak anak penderita kanker dan penyakit yang berisiko tinggi.
♦ Berjiwa pengabdi sosial: menyewa rumah untuk rumah singgah, menyediakan tempat tinggal gratis, mendukung kebutuhan sehari-hari pasien yang tidak tercakup BPJS.
◊ Berani memulai dari kecil sampai besar: awalnya komunitas, akhirnya menjadi yayasan resmi. Semangatnya tidak padam bahkan ketika harus mengurus aspek legal, pengelolaan, dan pendanaan.
Di balik perjuangan besar ini, ada sosok keluarga yang selalu setia mendampingi.
Istrinya, Ibu Supriyanti, menjadi partner penting dalam perjalanan hidup sekaligus mendukung setiap langkah beliau dalam membangun yayasan. Kehadiran keluarga membuat perjuangan ini terasa lebih nyata, karena lahir dari pengalaman pribadi menghadapi ujian berat dalam kehidupan rumah tangga mereka.
Pesan & Harapan
Salah satu pesan paling menyentuh adalah dari Sarah sendiri: bahwa satu kalimat, meski diucapkan anak kecil, bisa memicu perubahan besar jika dilakukan dengan niat baik.
Dengan terus dijalankannya yayasan, “Ayah Sarah” tidak hanya menjadi tokoh figur — tapi juga inspirasi bahwa kepedulian terhadap orang lain itu bermula dari hal simpel: melihat, mendengar, dan bertindak.
