Saat Satu Anak Sakit

Saat satu anak sakit, seluruh keluarga ikut merasakan perjuangannya. Kisah sederhana tentang orang tua dan keluarga yang saling menguatkan selama mendampingi anak menjalani pengobatan.

Kalo kalian dateng ke Rumah Singgah, yang pertama kali ke notic emang biasanya anaknya. Ada yang lagi main, ada yang lagi tidur, ada juga yang lagi giliran kontrol. Tapi kalau di perhatikan lebih lama, sebenarnya yang lagi berjuang bukan cuma si anak.

Ada satu keluarga yang ikut menjalani semuanya. Ada ayah yang pagi-pagi berangkat kerja, lalu malamnya langsung nyusul ke rumah sakit  pas anaknya di rawat. Badannya capek, matanya ngantuk, tapi begitu ketemu anaknya tetap berusaha tersenyum.

Ada ibu yang hampir setiap hari nemenin pengobatan. Tidurnya sering tidak cukup, makannya kadang terlambat, tapi pikirannya tetap sama. Yang penting anaknya nyaman dan bisa cepat sembuh. Kadang ada keluarga yang harus terpisah sementara. Sebagian tinggal di rumah singgah, sebagian lagi tetap di rumah atau kampung halaman. Komunikasinya cuma lewat telepon atau video call.

Ada juga adik yang belum mengerti kenapa kakaknya harus sering ke rumah sakit, ada nenek yang setiap hari nunggu kabar, ada keluarga besar yang diam-diam ikut cemas meski tidak selalu menunjukkannya. Kalau di pikir-pikir, sakit memang datang ke satu anak. Tapi dampaknya di rasakan oleh banyak orang yang menyayanginya.

Makanya di rumah singgah, kami sering melihat bagaimana sebuah keluarga belajar menjadi lebih kuat. Mereka saling gantian menjaga, saling menyemangati, dan saling mengingatkan untuk tetap sabar. Tidak selalu mudah. Kadang ada lelah, ada sedih, ada rasa khawatir yang datang tiba-tiba.

Tapi di tengah semua itu, selalu ada satu hal yang membuat mereka bertahan: harapan. Harapan bahwa suatu hari nanti, semua perjuangan ini akan terbayar dengan senyum sehat anak yang mereka sayangi.

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram