Relawan Bicara: Mengapa Kami Hadir untuk Mereka
Ada sesuatu yang tak bisa di jelaskan dengan kata-kata ketika kami melangkah masuk ke Rumah Singgah Sahabat Ayah Sarah. Bukan karena tempatnya megah atau kegiatannya luar biasa meriah, tapi karena ada kehangatan yang tak tergantikan dari tatapan mata anak-anak pejuang, pelukan hangat orang tua mereka, hingga obrolan ringan yang mengalir begitu saja di tengah kesibukan harian.

Menjadi relawan bukan sekadar hadir secara fisik. Kami hadir dengan hati. Dengan kepedulian. Dengan niat tulus untuk menemani, mendengar, dan berbagi sedikit kekuatan pada mereka yang sedang berjuang untuk sembuh. Di sinilah kami merasa seperti pulang, meski bukan ke rumah kami sendiri.
Di rumah singgah ini, semua terasa hangat. Bukan cuma karena udara Jakarta yang kadang gerah, tapi karena cinta yang saling kami bagikan di antara dinding-dinding sederhana rumah ini.
Nah, inilah beberapa cerita dari teman-teman relawan kami tentang kenapa mereka memilih hadir, tentang momen-momen yang nggak terlupakan, dan tentang apa yang bikin mereka tetap bertahan sampai hari ini.
“Halo, Saya Julita Paradilla…”
Saya salah satu staf dan relawan di Yayasan Sahabat Ayah Sarah. Lucunya, awal mula saya bergabung ke yayasan ini sebenarnya cukup tidak sengaja. Suatu pagi saya menerima notifikasi panggilan dari nomor yang tidak di kenal. Dari percakapan itu, saya tahu kalau yang menelepon adalah Ayah Sarah. Beliau mengajak saya untuk ngobrol lebih dalam, dan dari situlah semuanya bermula.
Sebagai orang yang benar-benar awam dengan dunia kesehatan dan sosial, saya nggak nyangka kalau beliau percaya pada saya untuk bisa bergabung bersama tim relawan lainnya. Tapi mungkin memang sudah jalannya. Karena makin ke sini, saya makin yakin: hidup ini cuma sekali, dan saya ingin hidup saya bermanfaat buat orang lain.
Motivasi saya? Saya ingin menimbun butiran-butiran pahala, dan mengukir kenangan bersama mereka yang tengah berjuang menjemput kesembuhan. Karena jujur, pengalaman-pengalaman yang saya alami di sini bukan cuma menyentuh hati kadang juga menggoresnya cukup dalam.
Satu momen yang cukup menggetarkan hati saya adalah ketika kalimat “semoga lekas sembuh yaa” berubah jadi “semoga ada mukjizat yang hadir untuknya.” Kalimat seperti ini sudah berkali-kali saya dengar, dan itu membuat saya sadar bahwa sejatinya, hidup ini adalah titipan. Kita hanya bisa menjaga dan merawat, selebihnya biar Tuhan yang menentukan.
Kami sangat menyayangi mereka semua. Tapi kalau pada akhirnya Allah lebih sayang dan memilih mereka jadi bidadari surga, kami hanya bisa mengikhlaskan. Karena Allah-lah pemilik sejati dari semua kehidupan ini.
Aji Nuryasin: “Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh”

Motivasi saya sebagai relawan sebenarnya sederhana. Orang tua saya pernah menanamkan satu petuah yang sampai hari ini saya pegang erat. Sebuah filosofi hidup dalam pribahasa Sunda: Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh.
Silih Asah: Saling mencerdaskan, saling memperbaiki, dan terus meningkatkan pengetahuan serta kemampuan bersama.
Silih Asih: Saling mengasihi, saling peduli, dan menunjukkan cinta dan kasih sayang terhadap sesama.
Silih Asuh: Saling mengasuh, melindungi, dan membimbing satu sama lain dalam menjalani hidup.
Filosofi ini yang terus menuntun saya selama menjadi relawan di Yayasan Sahabat Ayah Sarah. Karena di sini, saya belajar langsung bagaimana wujud cinta tanpa pamrih itu nyata. Bagaimana kekuatan orang tua dalam memperjuangkan anaknya itu luar biasa. Dan bagaimana kami bisa saling tumbuh dalam kepedulian.
Ada banyak pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan, terutama saat melihat langsung perjuangan para orang tua. Mereka bukan hanya sedang berjuang untuk kesembuhan anaknya, tapi juga sedang bertarung dengan rasa takut, letih, dan ketidakpastian.
Tidak sedikit pula orang tua yang akhirnya harus kehilangan buah hatinya — anak yang mereka rawat, mereka peluk, mereka doakan siang malam. Itu menjadi salah satu bagian paling menyayat hati. Dan di sanalah saya belajar, bahwa menjadi relawan bukan hanya soal membantu, tapi juga menjadi saksi dari kisah perjuangan dan kesedihan yang luar biasa.
Kami tahu, kami bukan dokter. Kami nggak bisa menyembuhkan penyakit. Tapi kami bisa hadir. Bisa menemani,mendengarkan, dan memeluk. Dan kadang, itu lebih dari cukup.
Menjadi relawan itu bukan tentang punya banyak waktu atau uang. Tapi tentang hati. Tentang memberi sedikit dari apa yang kita punya, untuk orang yang sedang sangat membutuhkan.
Harapan kami semua di Sahabat Ayah Sarah, semoga rumah singgah ini terus maju, semakin kuat, dan mampu menjangkau lebih banyak lagi pejuang kesembuhan dari berbagai daerah. Supaya tidak ada lagi yang merasa sendiri dalam perjuangannya.
Aamiin.
