Surat yang Tidak Pernah Ditulis Icha : 2026!

Ia tidak menulis, “Pengen jalan-jalan.” Tidak juga, “Pengen main banyak.”Yang ia mau cuma satu: sembuh.

Hai 2026,
sejujurnya, haloo sahabat YSAS..
kali ini mau share nih, meskipun ini bukan surat resmi, dan juga bukan tulisan rapi dengan kata-kata indah yaa,,

Sebenarnya, ini hanya sekedar kertas putih,
yang perlahan ditulis oleh tangan kecil,
di tengah hari-hari yang jauh lebih sering dihabiskan di rumah sakit,
dibandingkan di halaman sekolah.

Untuk diketahui, namanya Nurrisa,
atau biasa dipanggil Icha.

Di kertas itu, tulisannya sederhana sekali.
Tidak ada mimpi besar.
Tidak juga permintaan muluk.
Bahkan, semuanya terasa sangat singkat.

Karena itu, Icha hanya menulis harapannya untuk tahun depan.

“Pengen sembuh.
Pengen sekolah lagi.
Kumpul lagi bersama keluarga di rumah.”

Kalimatnya memang pendek.
Namun demikian, rasanya panjang… sekali.


Di sisi lain, berbeda dengan usia ketika anak-anak lain sibuk bermain dan berlari,
Icha justru belajar satu hal,
yang pada kenyataannya tidak pernah ia minta,
yaitu: sabar.

Adik Icha tidak menulis keinginan untuk jalan-jalan,
dan juga tidak menuliskan keinginan bermain sepuasnya.
Sebaliknya, yang Icha mau cuma satu:
sembuh, sahabat.

Walaupun begitu, Icha tetap menyimpan banyak harapan kecil.
Misalnya, bisa sekolah lagi,
kemudian bisa tidur di rumah tanpa suara alat medis,
lalu bisa makan tanpa rasa takut,
serta bisa main bersama teman-temannya.


Surat yang Tidak Pernah Dikirim

Pada dasarnya, surat ini tidak ditujukan ke siapa-siapa.
Tidak ada alamat.
Dan tidak ada amplop.

Mungkin saja, Icha percaya,
harapannya cukup ditulis,
kemudian Tuhan akan membaca sisanya.


Hai 2026…

Jika memang kamu benar-benar bisa mendengar,
maka tolong datanglah pelan-pelan ke hidup Icha.

Tidak perlu membawa kejutan besar.
Sebagai contoh, cukup bawakan:

Hari tanpa infus,
kemudian minggu tanpa rawat inap,
dan akhirnya tahun tanpa bolak-balik rumah sakit.

Bagi Icha, itulah arti bahagia.

Surat ini barangkali tidak pernah benar-benar ditulis
untuk dibaca banyak orang.
Akan tetapi, kisah Icha tetap pantas untuk didengar.

Bukan untuk dikasihani,
melainkan untuk diingat,
bahwa di luar sana, ada anak-anak
yang mimpinya bukan lagi tentang mainan baru,
tetapi justru tentang kesempatan untuk hidup lebih sehat.

Dan pada akhirnya, semoga,
saat 2026 benar-benar datang,
Icha sudah lebih sering memegang pensil di kelas,
daripada kertas harapan di rumah sakit.

Ya sahabat,
oleh karena itu, selalu doakan Icha.

Aamiin. 🤲🏻

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram