

Tak ada satu pun orang tua yang siap mendengar vonis ini terlebih untuk anak yang baru berusia 2 tahun.

Maulidya Putri, balita kecil dengan pipi tembam dan senyum polos, awalnya hanya mengalami batuk dan pilek biasa. Penyakit yang sering dianggap sepele. Ia sempat dinyatakan sembuh. Keluarganya pun lega. Namun ketenangan itu tak berlangsung lama. Batuk pilek kembali datang, tubuh kecilnya mulai dipenuhi lebam kebiruan. Setiap memar terlihat seperti tanda tanya besar ada apa dengan anak sekecil ini?

Hingga akhirnya hasil pemeriksaan darah memecah harapan keluarga.
Leukosit Maulidya sangat tinggi.
Hemoglobin dan trombositnya jatuh sangat rendah.

Pada bulan Oktober, dunia keluarga kecil ini seakan runtuh seketika. Dokter menyampaikan kabar yang tak pernah terbayangkan: Maulidya mengidap kanker darah, Leukemia ALL.
“Ibu rasanya hancur… saya nggak pernah menyangka anak saya sakit separah ini. Dia anaknya aktif, ceria, nggak bisa diam,” tutur Bu Sri, ibunya, dengan suara bergetar.
Dari Bogor, Maulidya harus dirujuk ke RSCM Jakarta. Di usia yang seharusnya belajar berjalan dan bermain, Maulidya justru harus menjalani rawat inap selama 9 hari untuk kemoterapi pertamanya. Selang infus, jarum suntik, dan rasa sakit kini menjadi bagian dari hari-harinya.

Perjuangan itu belum selesai,
Maulidya harus menjalani kemoterapi rutin dua kali setiap minggu. Bolak-balik rumah sakit menjadi rutinitas yang tak bisa dihindari.
Yang paling menyayat hati sudah lebih dari satu bulan ini Maulidya tak mampu berdiri, apalagi berjalan. Kaki kecil yang dulu tak pernah berhenti berlari kini hanya terbaring lemah. Efek kemoterapi menggerogoti tubuh mungilnya, membuatnya lelah bahkan untuk menangis.
Di tengah perjuangan melawan kanker, Bu Sri juga harus menahan luka dari ucapan orang-orang. Ia kerap disalahkan, dibandingkan, bahkan dipertanyakan seolah ini adalah kesalahan orang tua.

“Kenapa anak tetangga sehat-sehat saja, sementara anakmu sakit?”
Padahal tak ada satu pun ibu di dunia ini yang ingin anaknya menderita.
Demi membawa Maulidya berobat ke Jakarta, motor satu-satunya terpaksa dijual. Pak Engkan, ayah Maulidya, hanyalah pekerja serabutan dengan penghasilan tak menentu. Bu Sri adalah ibu rumah tangga yang kini sepenuhnya mendampingi anaknya di rumah sakit.

Hari-hari mereka kini dipenuhi kecemasan:
bagaimana biaya hidup di Jakarta,
bagaimana membeli susu khusus Maulidya,
diapers, obat-obatan, pemeriksaan lanjutan,
serta kebutuhan medis lain yang tidak sepenuhnya ditanggung BPJS.
Maulidya terlalu kecil untuk memahami apa itu kanker. Ia hanya tahu tubuhnya sakit, ia lelah, dan ingin digendong ibunya. Namun orang tuanya tahu satu hal, mereka tak boleh menyerah, meski langkah terasa semakin berat.
![]()
Belum ada Fundraiser