

Bagi Ibu Niken, tak ada kebahagiaan yang lebih besar dari kelahiran putri bungsunya, Laras. kehadiran Laras seolah melengkapi hidup mereka. Namun takdir berkata lain, sejak kecil, Laras harus berjuang melawan penyakit Cerebral Palsy (CP) dan epilepsi berat.

Setiap hari, tubuh mungil Laras tak pernah benar-benar tenang. Kejang datang silih berganti, bahkan bisa berkali-kali dalam sehari. Meski sudah rutin minum obat, perubahan yang terjadi sangat kecil. Di usianya yang hampir 3 tahun, ketika anak-anak lain mulai berlari dan berceloteh, Laras baru bisa tengkurap dan belum mampu berbicara.

Pernah suatu waktu, Laras harus dirawat intensif di ruang PICU selama 10 hari karena kesulitan bernafas. Dadanya tampak cekung, tubuhnya lemah, dan Ibu Niken hanya bisa menatap penuh doa di sisi ranjang.
Setiap hari, Laras menjalani terapi, baik di rumah sakit maupun secara mandiri tiga kali sehari di rumah, agar tubuhnya tidak kaku. Namun, perjuangan itu tak hanya melelahkan secara fisik, tapi juga berat secara finansial.

Di tengah kebutuhan pengobatan yang besar, musibah menimpa. Perhiasan satu-satunya milik keluarga hilang dicuri. Kini, Pak Agus dan Ibu Niken benar-benar harus berjuang dari nol.
Pak Agus bekerja sebagai buruh pasar, memanggul barang dengan punggung yang kerap sakit. Dari upah Rp100 ribu per hari, ia harus membagi untuk biaya kontrakan, makan, sekolah anak sulung, dan pengobatan Laras. Selain itu sang Ibu pun juga ikut membantu dengan mengupas bawang di rumahnya dengan upah yang sekedarnya.

Meski lelah, mereka tak pernah menyerah. Setiap peluh Pak Agus dan setiap doa Ibu Niken adalah bukti cinta tanpa batas untuk buah hati mereka. Laras mungkin belum bisa bicara, tapi senyumnya adalah semangat yang membuat kedua orang tuanya terus bertahan.
Kini, Laras membutuhkan bantuan kita untuk terus berjuang melawan penyakitnya. Mari bersama, kita bantu ringankan langkah kecil Laras menuju kesembuhan dengan cara :
Dukungan dan doa kita sangat berarti untuk Laras dan keluarga.
![]()
Belum ada Fundraiser