

Sejak dilahirkan, Hilya kecil harus menjalani perjalanan panjang untuk memahami kondisi tubuhnya sendiri.

Di usianya yang baru 2 tahun, Hilya memiliki susunan kromosom 46 XY. Namun, perkembangan organ reproduksinya tidak berlangsung seperti pada umumnya laki-laki. Kondisi tersebut membuat bentuk alat kelamin Hilya terlihat seperti perempuan, meskipun terdapat penis.
Sejak Hilya masih kecil, Pak Didin dan sang istri sudah menyadari adanya perbedaan pada bagian tersebut. Mereka kemudian membawa Hilya untuk berkonsultasi dengan dokter.

Kala itu, dokter menduga bagian yang tampak menonjol merupakan klitoris yang berukuran lebih panjang dan kemungkinan dapat mengalami perubahan seiring pertumbuhan Hilya.
Namun, waktu terus berjalan.
Hilya tumbuh semakin besar, tetapi kondisi tersebut tidak menunjukkan perubahan. Hingga akhirnya, keluarga kembali berkonsultasi dan Hilya mendapatkan rujukan untuk menjalani pemeriksaan lebih lengkap di Jakarta.
Ternyata, perjuangan Hilya bukan hanya mengenai kondisi pada organ reproduksinya.

Hilya juga mengalami hidronefrosis pada ginjal kanan, yaitu kondisi ketika ginjal mengalami pembengkakan akibat aliran urine yang tidak berjalan dengan baik. Selain itu, kedua testis Hilya juga tidak berada di posisi yang seharusnya atau disebut Undesensus Testis (UDT) bilateral.
Kondisi pada ginjalnya bahkan sempat membuat wajah Hilya mengalami pembengkakan.
Kini, Hilya harus menjalani serangkaian pemeriksaan dan mendapatkan penanganan lebih lanjut di Jakarta.
Bagi keluarga kecil ini, perjalanan dari Lampung menuju Jakarta tentu bukan sesuatu yang mudah. Ada banyak kebutuhan yang harus dipenuhi selama mendampingi Hilya berobat, mulai dari biaya perjalanan, kebutuhan nutrisi, obat-obatan yang tidak seluruhnya ditanggung BPJS, hingga kebutuhan sehari-hari selama berada jauh dari rumah.

Demi memastikan pengobatan putrinya tetap berjalan, Pak Didin bahkan harus merelakan satu-satunya motor yang biasa digunakannya untuk bekerja sebagai kurir.
Motor tersebut dijual dan hanya menghasilkan sekitar Rp3 juta.
Namun, jumlah itu perlahan habis untuk memenuhi kebutuhan Hilya selama menjalani pengobatan di Jakarta.
Saat ini, Pak Didin juga belum dapat kembali bekerja karena harus terus mendampingi putrinya menjalani pemeriksaan dan pengobatan. Tabungan yang dimiliki keluarga pun telah habis.

Bahkan, maskawin yang selama ini disimpan sebagai salah satu pegangan keluarga kini terpaksa dipertimbangkan untuk dijual.
Semua dilakukan demi satu harapan sederhana...
Agar Hilya bisa mendapatkan penanganan terbaik dan tumbuh sehat seperti anak-anak lainnya.
Pak Didin dan istrinya tidak meminta lebih. Mereka hanya ingin melihat putri kecilnya menjalani pengobatan dengan lancar, tanpa harus terhenti karena keterbatasan biaya.
Orang baik, mari kita bantu Hilya.
Ulurkan kepedulian untuk menemani perjuangan Hilya menjalani pengobatan di Jakarta.
Semoga setiap bantuan yang diberikan menjadi jalan bagi Hilya untuk mendapatkan pengobatan yang dibutuhkannya dan kembali tumbuh dengan sehat.
Cara berdonasi membantu perjuangan Hilya dan keluarga:
Selain mendoakan serta berdonasi, kamu juga bisa membagikan halaman galang dana ini agar semakin banyak yang turut mengulurkan kasih untuk mereka.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik