

Tak ada yang menyangka, demam yang awalnya dianggap biasa justru menjadi awal dari perjuangan berat yang harus dijalani Andhika.

Tubuh mungilnya tiba-tiba melemah. Demam tinggi membuatnya tak lagi mampu beraktivitas seperti biasanya. Sang ayah yang panik segera membawanya ke rumah sakit, berharap putra semata wayangnya hanya mengalami sakit ringan.
Namun, hasil pemeriksaan laboratorium justru membawa kabar yang begitu memilukan.

Kadar hemoglobin (Hb) Andhika sangat rendah, sementara jumlah leukositnya sangat tinggi. Demi menyelamatkan kondisinya, dokter segera melakukan transfusi darah sebanyak empat kantong. Meski telah mendapatkan penanganan, perjuangan Andhika belum berakhir.
Dokter menyarankan pemeriksaan Bone Marrow Puncture (BMP) untuk memastikan penyakit yang dideritanya. Sayangnya, pemeriksaan tersebut tidak dapat dilakukan di rumah sakit daerah. Andhika harus segera dirujuk ke rumah sakit di Jakarta agar mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang lebih lengkap.

Di balik perjuangan Andhika, ada sosok ayah yang terus berjuang tanpa kenal lelah.
Dengan penghasilan sebagai pekerja serabutan yang hanya sekitar Rp50.000 hingga Rp70.000 per hari dan tidak menentu, ia tidak memiliki tabungan. Demi membawa putranya berobat ke Jakarta, ia terpaksa menjual satu-satunya anak kambing yang dimilikinya seharga Rp800.000. Uang itu pun habis untuk biaya bensin, tol, dan makan selama perjalanan.
Sesampainya di Jakarta, perjuangan mereka masih panjang. Andhika harus menjalani berbagai pemeriksaan, mulai dari BMP, pemeriksaan laboratorium, hingga tindakan medis lainnya untuk memastikan diagnosis dan menentukan pengobatan yang harus dijalani.

Sejak usia tiga bulan, Andhika telah kehilangan kasih sayang seorang ibu. Kini, ia hanya hidup bersama ayahnya yang telah lanjut usia. Meski tubuhnya mulai lelah dan penghasilannya sangat terbatas, sang ayah tak pernah meninggalkan putranya. Ia terus mendampingi Andhika menjalani pengobatan, meski sering kali dihantui pertanyaan, "Bagaimana biaya pengobatan berikutnya akan kami dapatkan?"

Di tengah rasa sakit yang harus ditanggungnya, Andhika tidak pernah meminta hal-hal yang mewah.
Dengan suara lirih, ia hanya berkata,
"Aku ingin sembuh... supaya bisa sekolah lagi dan bermain bersama teman-teman."
Kalimat sederhana itu menjadi harapan terbesar yang terus ia genggam setiap hari.

Sahabat baik, hari ini Andhika dan ayahnya tidak hanya berjuang melawan penyakit, tetapi juga berjuang menghadapi keterbatasan ekonomi. Mereka membutuhkan uluran tangan agar pemeriksaan, pengobatan, transportasi, serta kebutuhan selama menjalani perawatan dapat terus terpenuhi.
Berapa pun donasi yang Anda berikan akan menjadi harapan baru bagi Andhika untuk terus berjuang dan kembali meraih masa kecilnya.
Mari bersama kita bantu Andhika. Klik tombol Donasi sekarang, karena setiap kebaikan yang Anda berikan dapat menjadi jalan bagi Andhika untuk sembuh, kembali bersekolah, dan bermain bersama teman-temannya.
Cara berdonasi membantu perjuangan Andhika dan keluarga:
Selain mendoakan serta berdonasi, kamu juga bisa membagikan halaman galang dana ini agar semakin banyak yang turut mengulurkan kasih untuk mereka.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik